Ancaman Politik Pencitraan

0
275

ChannelOne23.com– Dalam praktik demokrasi liberal, pencitraan menjadi kata kunci yang berperan memenangkan pertarungan politik tetapi pencitraan yang begitu binal dan berlebihan justru mengkristalisasi rekayasa demi mengubah sesuatu yang superfisial menjadi Hakiki.

Juga melalui pencitraan seorang tokoh politik sengaja digambarkan sebagai sosok yang peduli nasib wong cilik.

Sang tokoh politik serta merta diilustrasikan sebagai sosok yang bersedia hidup sederhana. Bahkan sampai ke politik dibedakan sebagai pribadi religius. Maka pencitraan mengubah dunia politik yang di bidang menjadi seolah-olah humanistik. dengan demikian tak terelakkan jika narsisme menemukan perwujudannya secara sangat vulgar melalui penciptaan.
dalam bahasa lain pencitraan sesungguhnya sebuah usaha merumuskan sesuatu untuk menghargai Moni publik melalui wacana. Sedangkan wacana menurut vokal adalah tangga untuk meraih kekuasaan.

Kekuasaan dan wacana memiliki hubungan yang sangat strategis terutama bila dikaitkan dengan peranan atau fungsi suatu diskursus dalam membentuk suatu hegemoni atau dominasi serta pengaruh suatu kekuasaan dalam memproduksi wacana untuk membentuk ideologi sosial berdasarkan kepentingan kekuasaan itu sendiri.

problemnya Kini kita menyaksikan pencitraan yang berlebihan dan mulai mengganggu akal sehat. pencitraan yang tak habis-habisnya membombardir ruang publik justru mempertontonkan ucapan dan laku seorang tokoh melampaui kelaziman. Contohnya pencitraan yang terlampau obsesif mewarnai proses Pemilukada yang terjadi di 10 daerah di Sulsel. hal yang kemudian tak terelakkan mencuat ke permukaan yaitu tendensi para elit mengeksploitasi hal-hal yang irasional menjadi seakan-akan ilmiah dan masuk akal. semua ini terutama mereka yang bertarung Dalam Pemilukada merasa telah melakukan hal-hal benda mental sukses menggebrak dengan pencitraan. di sini kita menemukan kembali sabdopanditoratu segala sesuatu dianggap final tatkala sudah diucapkan tanpa harus dilaksanakan kata-kata teramputasi dari tindakan.

Boom pencitraan

Selama kurun waktu 2004 2009 ketika dekat demokrasi liberal menabrak dapur politik Indonesia para elit yang menjadi politik sebagai sumbu ekonominya mulai mewarnai diri dengan bom pencitraan. baik media cetak maupun elektronik diwarnai iklan atau advetorial tentang kehebatan dan keberhasilan diri seseorang. observasi secara random terhadap media cetak di SulSel membawa kita pada kesimpulan bahwa para elit dan jaringan dan jajaran pemerintahan pada berbagai Lini terpilin ke dalam upaya memperbesar pencitraan. kita lalu menyaksikan munculnya komunikasi politik yang 10 warna aura pencitraan kalangan elit dan pemerintah ekses negatif lalu menyeruak ke permukaan. Contohnya termasuk kedalam fakta berikut:

Pada 22 Februari 2010 di Makassar berlangsung launching nasional Demokrat Nasdem pada acara yang mengisi hampir semua halaman satu media cetak di Sumsel membicarakan nasib rakyat dengan agenda ekonomi politik dan kesejahteraan. tak tanggung-tanggung perhelatan Akbar ini dihadiri ribuan pemangku kepentingan dari politisi pejabat daerah akademisi lembaga swadaya masyarakat hingga asosiasi asosiasi usaha dan profesi bagi Alif yang mencari panggung launching Nasdem ini merupakan ajang pencitraan yang memberi uang kepada para elit yang bercokol di sana untuk menempatkan pemikiran pemikiran politik ekonomi dan sosialnya.

Bom pencitraan yang seperti ini akan mendorong kesadaran sosial yang terbalik. Logika terbalik akhirnya mewarnai cara berpikir masyarakat. media publik pada akhirnya tidak berfungsi sebagai alat untuk menyebarkan informasi sebagaimana mestinya tetapi masyarakat justru melihat media publik sebagai alat provokasi politik tertentu. akhirnya masyarakat membaca mendengar menonton berita atau iklan dengan cara terbalik. kalau parah Ik mengatakan hitam publik menerjemahkannya putih kalau penguasa mengklaim benar masyarakat menafsirkannya salah.
Efek lebih serius dari BUMN pencitraan adalah tereduksinya social trust. publik kehilangan institusi sosial yang mampu meng guidance mereka ke arah netral yang lebih berimbang. dengan pencitraan publish akan akan dipaksa untuk selalu berpihak pada kepentingan elit-elit tertentu. Masyarakat terpolarisasi berdasarkan kekuatan pencitraan elite relasi sosial menjadi renggang kecurigaan sosial meningkat dan masyarakat akhirnya hidup dalam tekanan blok-blok kepentingan para elit.
Kebenaran absolut

Hal yang kemudian menarik digarisbawahi adalah sedahsyat apa pun politik pencitraan digerakkan ke tengah kancah kehidupan masyarakat, toh pada akhirnya terbentuk limitasi tertentu. Kebenaran Absolut memiliki kemampuan korektif terhadap pencitraan. Kalau pencitraan mengingkari kebenaran absolut maka ketika itu pula pencitraan tampak dangkal dan mulai kehilangan rasionalitasnya.

Pencitraan tampak mencolok sebagai trik yang disesaki aura tipu-menipu. Contoh kasus, para elit yang menjual dirinya di Pilkada pemilu legislatif atau pada panggung apapun dapat disimak bahwa mereka berada dalam konteks memperebutkan pencitraan dalam tubuh politik kekuasaan. Karena itu pencitraan dalam konteks politik selalu membawa korban di samping ada the winner juga dibarengi dengan munculnya the loser.

Dampak buruk yang kemudian Berduri ialah kompetisi jajaran elit pada ranah pencitraan justru memporak-porandakan strategi komunikasi politik pada panggung kekuasaan. Janji-janji politik atau argumentasi politik yang diproduksi oleh para elit, baik pada Pilkada maupun pada pemilu legislatif, misalnya, telah dirancang sedemikian rupa menjadi sesuatu model pencitraan di hadapan publik. Pencitraan para elit ini, kemudian diporak porandakan oleh fakta yang tidak pernah kunjung hadir dari janji-janji politik pada Elite. Pada titik ini, ketika janji-janji politik para elite tidak terpenuhi, maka pencitraan hanya berfungsi seperti opium, hanya seperti Fatamorgana, melahirkan impian-impian ekspektasi masyarakat yang tidak pernah terpenuhi.

Hal yang absurd di sini terapkan dalam pertanyaan mengapa para elit yang mengambil ruang publik sebagai lapangan permainannya tak pernah memikirkan efek dari model pencitraan yang ditawarkannya? Nampaknya Obsesi terhadap pencitraan diri para ahli dilakukan dengan nafsu dan tindakan membabi buta dan sebagai akibatnya pencitraan bisa jadi akan berbalik arah memakan kembali dirinya sendiri bila materi pencitraan itu tidak bisa diwujudkan oleh elit.

Hikmah dari semua ini hanyalah satu Sudah saatnya para elit kekuasaan bekerja bukan untuk pencitraan yang begitu narsistis. dimulai dari sekarang hingga ke masa depan Elite dan resume kekuasaan di negeri ini saya untuk memperjuangkan terwujudnya kebenaran Absolut yang terpatri ke dalam terciptanya masyarakat adil makmur. wahai para elit dan pengendali resume kekuasaan Berhentilah anda bermain-main dengan pencitraan Kalau tidak Anda bakal berbenturan batas-batas pencitraan di mata publik eksistensi Anda lalu tanpa amat sangat absurd.
(***)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here