Hidup Sehat dengan Pangan Lokal

0
40

ChannelOne23.com. Pandemi Covid-19 yang tengah melanda di Indonesia sangat berdampak pada ketahanan pangan nasional seperti terganggunya produksi pertanian akibat pembatasan pergerakan tenaga kerja, terganggunya distribusi pangan karena penerapan PSBB dan penutupan wilayah secara terbatas, serta daya beli masyarakat yang menurun.

Untuk mengatasi hal tersebut, beberapa kebijakan telah dilakukan oleh Kementerian Pertanian, diantaranya dengan meningkatkan produktivitas pangan pokok, memperlancar distribusi pangan, mempermudah akses transportasi dan menjaga stabilitas harga.

Menurut Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo bahwa negara akan bermasalah apabila ketahanan pangannya bermasalah. Kekuatan apapun yang kita miliki tidak bisa menjaga negara dengan baik, kalau ketahanan pangan kita bersoal.

“Bicara ketahanan pangan adalah bicara kekuatan negara dan bangsa,” ujar SYL. Untuk itu, peranan ketahanan pangan dan kekuatan negara sangat penting dalam menyiapkan makanan rakyat Indonesia.

Syahrul yakin bahwa Indonesia sebagai negara yang besar memiliki kekuatan karena didukung sumber daya alam seperti pantai, dataran rendah, bukit, dan gunung yang memiliki potensi dalam memperkuat ketahanan pangan Indonesia.

Sementara itu pada agenda Mentan Sapa Petani dan Penyuluh Pertanian (MSPP) Volume 09, Jumat (19/03/2021) yang bertemakan Sistem pangan dan Penyuluhan Pertanian dalam Pencapaian Ketahanan Pangan dan Gizi, Kepala Badan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi menyampaikan tujuan pembangunan bukan hanya produksi tapi ketersedianya, keterjangkauannya pangan adalah masalah hidup.

Ketahanan Pangan dan gizi merupakan kondisi terpenuhinya kebutuhan pangan dan gizi bagi negara sampai dengan perseorangan. Semuanya tercermin dari tersedianya pangan yang cukup baik jumlah maupun mutunya, aman dan beragam.

Untuk itu, Dedi mengajak agar kita semua hidup sehat. Sehat dengan pangan lokal yang kita konsumsi mengurangi pangan impor.

Mengutip pesan dari Bung Karno, kita harus melakukan upaya besar, upaya radikal untuk mencapai ketahanan pangan, kemandirian pangan dan swasembada pangan.

Untuk menjamin ketahanan pangan dan gizi dan kemandirian dan ketahanan pangan, perlu dilaksanakan pembangunan pertanian pangan berkelanjutan dengan menerapkan Teknologi Tepat Guna Spesifik Lokasi (TTG-SL) secara terus-menerus. Selain itu diperlukan juga dukungan sistem penyuluhan inovatif dan penyuluh kreatif dalam memberdayakan petani menerapkan teknologi TTG-SL ungggul, ujar Dedi.

Bahkan Peneliti Senior Bidang Kebijakan Pangan dan Pertanian, FKPR Kementerian Pertanian Prof. Dr. Achmad Suryana selaku Narasumber pada kegiatan tersebut mengatakan bahwa ancaman ketersediaan pangan dari impor bisa membuat kita kesulitan kalau kita tidak bergerak cepat. Namun, apabila kita bersungguh-sungguh maka kita akan bisa meningkatkan produksi pangan.

Achmad menuturkan, bahwa menurut data, proporsi penduduk miskin nasional di Indonesia mengalami penurunan dari tahun 2015-2019, namun di tahun 2020 mengalami kenaikan sebanyak 0,37%.

Permasalahan beban gizi triple pada balita Indonesia (Rikesdas 2018), stunting (Pendek + sangat pendek) 30,18%, wasting (kurus + sangat kurus) 10,2%, obese (gemuk) 8,0% dan ndernutrition (gizi kurang + buruk) 17,7%. Sedangkan Program peningkatan ketersediaan pangan di era normal baru diantaranya adalah peningkatan kapasitas produksi, diversivikasi pangan lokal, penguatan cadangan dan sistem logistik pangan serta pengembangan pertanian modern, tutupnya. (HVY/NF)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here