Mengintip Perjalanan panjang 12 Jenis Vaksin Covid-19 Dunia

0
132

Channelone23.com – Saat ini di seluruh dunia ada 12 vaksin Covid-19 yang telah berada di fase ketiga uji klinis. Dalam uji klinis ini efektivitas dan keamanan vaksin diuji ke ribuan (2,5 ribu hingga 10 ribu) sukarelawan.

Beberapa bibit vaksin ini telah mendapatkan emergency use authorization (EUA) atau otorisasi penggunaan darurat.

Dilansir dari situs Food and Drug Administration (FDA), EUA adalah izin penggunaan produk medis yang tidak disetujui atau penggunaan yang tidak disetujui dari produk medis yang disetujui selama keadaan darurat.

Menurut CNN yang dikutip inipasti.com, Keadaan darurat ini dinyatakan melibatkan peningkatan risiko serangan terhadap publik atau pasukan militer AS, atau potensi signifikan yang bisa mempengaruhi keamanan nasional.

Keputusan Menkes Nomor HK.01.07/ Menkes/ 9860/ 2020 tentang Penetapan Jenis Vaksin Untuk Pelaksanaan Vaksinasi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) telah menetapkan enam jenis vaksin Covid-19 yang dapat digunakan dalam proses vaksinasi di Indonesia.

Keenam vaksin tersebut diproduksi oleh Bio Farma, Astra Zeneca, China National Pharmaceutical Grup Corporation (Sinopharm), Moderna, Pfizer Inc and BioNtech, dan Sinovac Biotech.

  • Beijing Institute of Biological Products/Sinopharm (China/ Uni Emirat Arab)
    Vaksin Sinopharm ini berjenis inactivated. Secara singkat inactivated vaccine adalah vaksin menggunakan versi lemah atau inaktivasi dari virus untuk memancing respons imun.
    Vaksin telah menyelesaikan uji klinis fase ketiga di Uni Emirat Arab dan Turki. Pada 9 Desember 2020, vaksin Sinopharm mengkalim sudah mencapai angka 86 persen ampuh melawan Covid-19.
    Sebelumnya, pada 14 September, pemerintah Uni Emirat Arab memberikan izin EUA kepada vaksin untuk digunakan kepada tenaga kesehatan sebelum Sinopharm memastikan keamanan vaksin.
    Sementara Pemerintah China telah memberikan izin bagi perusahaan untuk melakukan vaksinasi terhadap pejabat pemerintah, tenaga kesehatan dan berbagai grup terpilih.
    Dilansir dari NY Times, hingga November, Sinopharm menyatakan telah menyuntik hampir satu juta orang.
    Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan vaksin ini akan tersedia sebanyak 10 juta dosis di Indonesia pada 2020. Ketersediaan vaksin ini melalui kesepakatan dengan G42.
    G42 merupakan sebuah perusahaan di bidang teknologi kesehatan yang berbasis di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.
  • Bharat Biotech (India) :
    Bekerja sama dengan Dewan Riset Medis India dan Institut Virologi Nasional, perusahaan India Bharat Biotech merancang vaksin yang disebut Covaxin berdasarkan inactivated virus.
    Pada 23 Oktober, perusahaan mengumumkan bahwa mereka memulai uji klinis fase ketiga. Bharat berharap hasil uji klinis bisa terbit pada awal 2021. Perusahaan mengantisipasi pendistribusian vaksin Juni 2021 mendatang.
    Studi pada monyet dan hamster menemukan bahwa vaksin memberikan perlindungan terhadap infeksi. Pada bulan Juni, vaksin virus korona Bharat menjadi yang pertama dibuat di India untuk menjalani uji klinis.
    Meski hasil uji coba fase pertama dan kedua belum dipublikasikan, seorang pejabat di Bharat mengatakan kepada India Today bahwa sekitar 85 hingga 90 persen dari1 ribu suka relawan menghasilkan antibodi terhadap virus corona dan tidak mengalami efek samping yang serius karena Covaxin.
  • Sinovac (China)
    Vaksin berjenis inactivated ini diuji klinis di Indonesia pada Agustus 2020. Uji klinis tahap ketiga telah dilakukan di berbagai negara termasuk di Turki, Brasil, Filipina, hingga Pakistan.
    Pada Oktober, Sinovac mendapatkan izin EUA dari pemerintah China. Sejak telah vaksin telah diberikan pada petugas kesehatan dan pelayan publik di China.
    Perusahaan juga membangun fasilitas untuk memproduksi hingga 100 juta vaksin per tahun.
    Pada 9 November, pemerintah Brasil menghentikan uji coba karena ada kejadian serius yang tidak diinginkan.
    Tidak dijelaskan apa yang terjadi dalam kejadian tersebut. Dua hari kemudian, uji coba kembali dilanjutkan.
    Pada Minggu (7/12/20), vaksin tiba di Indonesia. Distribusi vaksin tinggal menunggu EUA dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
  • Medicago (Canada)
    Medicago yang berbasis di Kanada menanam vaksin di tanaman bernama Nicotiana benthamiana, spesies liar yang terkait dengan tembakau.
    Mereka mengirimkan gen virus ke dalam daun, dan sel tumbuhan kemudian membuat cangkang protein yang meniru virus. Oleh karena itu, vaksin ini berjenis Vaksin partikel mirip virus (Virus-like particles).
    Vaksin ini adalah kelas khusus dari subunit vaksin. Protein pada vaksin ini didesain menjadi partikel buatan manusia agar terlihat seperti virus bagi sistem kekebalan manusia. Partikel ini mengikat dan memasuki sel seperti virus.
    Pada bulan Juli, Medicago meluncurkan uji coba fase pertama pada vaksin Covid-19 nabati yang dikombinasikan dengan adjuvan untuk meningkatkan respons sistem kekebalan terhadap protein virus.
    Dalam studi tersebut, mereka menemukan bahwa adjuvan menghasilkan tingkat antibodi yang menjanjikan pada sukarelawan.
    Pada 23 Oktober, perusahaan mengumumkan telah mencapai kesepakatan dengan pemerintah Kanada untuk memasok 76 juta dosis. Uji coba fase 2/3 dari vaksin dimulai pada 12 November.
  • CanSino/ Academy of Military Medical Sciences (China)
    Vaksinini merupakan jenis non replicating vector yang dibuat dari protein virus Covid-19, dengan vektor virus Adenovirus yang sudah dilemahkan (Ad 5).
    Vektor virus adalah virus ‘pembawa’ yang tidak menyebabkan penyakit. Namun, vektor virus dapat direkayasa untuk membawa virus seperti SARS-CoV-2.
    Vektor virus yang tidak bereplikasi adalah virus yang telah direkayasa secara genetik sehingga tidak dapat bereplikasi dan menyebabkan penyakit.
    Virus ini dimodifikasi lebih lanjut guna menghasilkan protein untuk penyakit yang diharapkan, seperti protein spike virus SARS-CoV-2 agar tubuh bisa mengenali virus dan membangun imunitas.
    Uji klinis fase 3 telah dilakukan di Arab Saudi, Pakistan dan Rusia. Saat masih fase 3,vaksin diberi “persetujuan obat-obatan yang dibutuhkan secara khusus” oleh komisi militer pusat China pada Juni. Saat ini vaksin telah mengantungi izin EUA sama seperti Sinopharm.
    Vaksin ini menggunakan virus untuk mengirimkan gen virus Covid-19 ke dalam sel. Sel akan membuat protein spike yang akan memancing respons imun, tapi virus tak akan mampu mereplikasi diri.
  • Gamaleya Research Institute (Rusia)
    Vaksin bernama Sputnik berjenis non replicating viral vector. Vaksin ini adalah kombinasi dari dua adenovirus, Ad5 dan Ad26, keduanya direkayasa dengan gen virus corona.
    Uji klinis ketiga dilakukan dengan melibatkan 40 ribu orang di Rusia, Belarus, Uni Emirat Arab, Venezuela dan India.
    Vaksin mendapat kritikan karena diberikan izin penggunaan sebelum uji klinis 3 dilakukan. Rusia bernegosiasi untuk memasok vaksin ke Brasil, Meksiko, dan India
    Presiden Vladimir Putih juga telah memerintahkan vaksinasi Covid-19 skala besar di Rusia mulai 10 Desember. Rusia sejauh ini telah memproduksi hampir dua juta dosis vaksin Sputnik V.
    Rusia mengklaim vaksin Sputnik V buatan mereka sudah mencapai tingkat keampuhan 95 persen melawan Covid-19.
  • AstraZeneca dan University of Oxford (Inggris-Swedia)
    Vaksin berjenis non-replicating viral vector berdasarkan adenovirus simpanse. Uji fase ketiga dilakukan di Amerika Serikat, India, Inggris, Brasil, Afrika Selatan dan Brasil.
    Uji klinis di AS sempat dihentikan karena relawan mengalami penyakit yang tak bisa dijelaskan. Salah satu relawan dikabarkan meninggal di Brasil.
    Vaksin dilaporkan menghasilkan respons kekebalan pada orang lanjut usia. Perusahaan akan mendistribusikan 400 juta dosis ke Uni Eropa. Perusahaan memiliki kapasitas produksi dua miliar dosis.
    AstraZeneca dan Universitas Oxford mengklaim AZD1222 yang mereka kembangkan berhasil mencapai tingkat keampuhan 70 persen melawan Covid-19 akibat infeksi virus corona.
    Dalam waktu dekat Inggris kemungkinan juga akan akan memberi lampu hijau bagi vaksin yang dikembangkan oleh Universitas Oxford.
  • Johnson & Johnson (Amerika Serikat)
    Vaksin berjenis non-replicating viral vector. Uji klinis fase 3 ke 60 ribu peserta. Tidak seperti vaksin lain dalam uji coba fase ketiga, vaksin ini hanya membutuhkan satu dosis.
    Perusahaan berkomitmen 100 juta dosis akan didistribusi di AS, 200 juta di Uni Eropa. Target produksi satu miliar dosis pada 2021. Uji klinis sempat ditunda setelah ada relawan jatuh sakit.
  • Pfizer, BioNTech/Fosun Pharma (Jerman, AS, & China)
    Vaksin berbasis RNA ini mampu picu imunitas dalam uji klinis 1 dan 2. Uji klinis fase ketiga dilakukan kepada 30 ribu sukarelawan di AS, Argentina, Brasil, dan Jerman.
    Vaksin ini adalah vaksin yang berisi instruksi genetik untuk membuat protein virus seperti protein spike SARS-CoV-2 agar tubuh bisa membangun imunitas.
    Sel-sel di tubuh penerima kemudian menggunakan instruksi untuk membuat protein di dalam tubuh agar sel-sel kekebalannya dapat melihat dan merespons protein itu.
    Sebanyak 100 juta dosis akan didistribusikan di AS pada Desember, 120 juta dosis di Jepang, dan 200 juta dosis di Eropa.
    Perusahaan menargetkan produksi 1,3 miliar vaksin pada akhir 2021. Vaksin harus disimpan dalam kondisi beku hingga minus 80 derajat celsius.
    Vaksin Covid-19 yang dikembangkan oleh Pfizer/BioNTech dilaporkan memiliki tingkat keberhasilan sebesar 95 persen dan kini telah disetujui untuk digunakan di Inggris.
    Sejauh ini, vaksin tersebut telah diuji ke 43.500 orang di enam negara dan telah terbukti mencegah mereka tertular Covid-19 dengan keberhasilan tinggi, bahkan pada kelompok usia yang lebih tua.
    Inggris menjadi menjadi negara pertama yang menyuntikkan vaksin Pfizer ke warganya pada 8 Desember 2020. Menyusul setelah Inggris adalah Brasil, Kanada, Bahrain hinggal Israel yang akan memulai vaksin bulan Desember 2020.
  • Anhui Zhifei Longcom/Institute of Microbiology, Chinese Academy of Sciences (China).
    Perusahaan China Anhui Zhifei Longcom dan Akademi Ilmu Kedokteran China bermitra untuk membuat vaksin. Kandidat vaksin yang dikembangkan terdiri dari adjuvan, bersama dengan bagian protein spike yang menularkan virus.
    Perusahaan meluncurkan uji coba tahap kedua pada bulan Juli, diikuti dengan uji coba tahap ketiga dengan 29 ribu sukarelawan pada bulan Desember.
  • Moderna/NIAID (Inggris & AS)
    Vaksin ini berbasis RNA dan diklaim 94,1 persen bisa mencegah penularan Covid-19. Bahkan Moderna mengklaim vaksin buatannya 100 persen dapat mencegah gejala berat kasus Covid-19.
    Uji klinis ketiga vaksin dilakukan kepada 30 ribu sukarelawan. Moderna akan mengajukan EUA pada akhir tahun 2020. Sebanyak 100 juta vaksin akan didistribusikan di AS. Selain AS, vaksin juga akan didistribusikan ke Kanada, Jepang, dan Qatar.
  • Novavax (AS)
    Vaksin buatan Novavax ini berjenis protein subunit. Vaksin protein subunit adalah vaksin yang menargetkan bagian dari virus. Pembuatan protein dilakukan dengan memecah seluruh virus menjadi beberapa bagian menggunakan pelarut seperti eter.
    Terkini, pembuatan vaksin dapat menggunakan genetik rekombinan, di mana gen untuk protein dimasukkan ke dalam organisme lain untuk menumbuhkan protein dalam jumlah besar.
    Uji klinis fase ketiga vaksin dilakukan di Inggris kepada 15 ribu sukarelawan. Sebanyak 100 juta dosis akan didistribusikan ke AS pada Q1 2021. Vaksin bisa diproduksi 2 miliar dosis per tahun di Serum Institute of India (syakhruddin). Berita ini sudah tayang di Inipasti.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here