Rangkaian Dies Natalis, Fakultas Hukum Unhas Bedah Buku Karya Dosen dan Mahasiswa

0
78

Makassar, ChannelOne23.com – Menyambut Dies Natalis ke-68, Fakultas Hukum (FH) Universitas Hasanuddin menggelar bedah buku, Selasa (18/2/2020). Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 10.30 Wita ini bertempat di Ruang Video Conference FH Unhas, diikuti oleh puluhan mahasiswa dan dosen.

Dua buku karya sivitas akademik FH Unhas yang dibedah. Buku pertama adalah “Penegakan Hukum terhadap Kejahatan Agresi” yang ditulis oleh Prof. Dr. Marthen Napang, SH, MH. Buku lainnya, adalah novel berjudul “Semusim di Bandung” yang ditulis oleh mahasiswa FH Unhas, Wahyudi Pratama.

Dosen FH Unhas, Dr. Kadaruddin, SH, MH yang bertindak sebagai pembahas dalam bedah buku karya Prof. Dr. Marthen Napang, SH, MH memaparkan kelebihan buku ini dibandingkan karya-karya sejenis. Menurut Kadaruddin, buku ini mencakup beberapa prinsip dasar, seperti Tuhan dan Kemanusiaan, nilai-nilai kemanusiaan, kejahatan internasional, norma hukum, prinsip dan metode, serta prospek penerapan kejahatan agresi di masa mendatang.

“Meskipun demikian, menurut saya masih ada sedikit elemen yang perlu ditambahkan dalam buku ini, yaitu definisi agresi menurut Konvensi London 1933. Selain itu, buku ini juga membahas tentang Liga Bangsa-Bangsa, namun luput menguraikan tentang Pakta Paris 1918,” kata Kadaruddin.

Sementara itu, buku novel “Semusim di Bandung” yang diulas pada kesempatan ini juga langsung mendengarkan pemaparan dari penulisnya. Wahyudi menguraikan secara garis besar plot dan setting yang tuangkan dalam novel ini, serta pesan besar apa yang hendak ia sampaikan kepada pembaca.

“Buku ini berbicara tentang konflik individual yang mendera tokoh utamanya, yaitu konflik dengan dirinya dan konflik dengan orang lain. Pesan utama yang hendak saya sampaikan dalam novel ini adalah pesan dakwah,” kata Wahyudi.

Dalam pandangan Muliana, seorang alumnus FH Unhas yang bertindak sebagai pembedah, novel yang ditulis oleh Wahyudi ini seolah membandingkan karakter budaya yang berbeda, yaitu karakter orang Bugis-Makassar dan karakter orang Sunda.

“Tokoh-tokoh utama dalam novel ini mempunyai karakter yang kuat dan sangat berbeda. Konflik yang diceritakan oleh Yudi memiliki makna dimana setiap ceritanya penuh dengan pembelajaran hidup,” kata Muliana.

Hal yang menarik dari novel ini yaitu Yudi mengangkat mengenai Islamophobia dan menjelaskan bahwa Islam itu indah dan damai. Kekurangan dari karya Yudhi ini yaitu endingnya yang menggantung.

Bedah buku diakhiri dengan sesi tanya jawab dan pembagian buku kepada peserta yang hadir.

Dalam rangkaian Dies Natalis ke-68, FH Unhas menggagas berbagai kegiatan, baik akademik maupun sosial kemasyarakatan. Dies Natalis FH Unhas tahun ini mengangkat tema sentral “Creating the law with Humaniversity”.(*)

Ishaq Rahman, AMIPR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here