Start Up Pertanian Beromzet Ratusan Juta, Bukti Kementan Percepat Regenerasi Petani

0
207

Jakarta, ChannelOne23.com – Regenerasi petani menjadi perhatian besar Kementerian Pertanian (Kementan) dalam menyiapkan sumberdaya manusia pertanian yang handal dan mampu berdaya saing. Upaya yang dilakukan Kementan tersebut tidak sia-sia, hal ini dibuktikan dengan banyaknya petani serta pengusaha milenial (start up) yang siap untuk melanjutkan tongkat estafet pembangunan pertanian.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) menyatakan bahwa peningkatan peran generasi muda pertanian dalam mengembangkan dan memajukan sektor pertanian, agar lebih prospektif dan berpeluang ekspor perlu diprioritaskan, sehingga dibutuhkan petani-petani muda yang dapat memberikan kontribusi dalam gerakan pembaharuan pembangunan pertanian.

“Saya makin percaya anak muda yang mau terjun di bidang pertanian bisa punya peluang kehidupan dan ekonomi yang lebih baik. Apalagi dengan memanfaatkan teknologi yang tersedia, maka dunia dalam genggaman kalian,” ujar SYL saat mengukuhkan Duta Petani Milenial dan Petani Andalan beberapa waktu lalu.

Hal tersebut dipertegas kembali oleh Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi yang menyampaikan regenerasi petani sudah sangat mendesak untuk dilakukan.

“Mau tidak mau, suka tidak suka, mampu tidak mampu, Kita harus lakukan regenerasi petani kepada petani milenial dan petani andalan. Karena petani milenial dan petani andalan sebetulnya yang paling berperan sangat strategis di dalam pembangunan pertanian Indonesia,” tegas Dedi.

Dalam menghadapi situasi di tengah wabah Covid-19 ini, Dedi menegaskan pertanian merupakan garda terdepan pencegahan infeksi Covid-19, karena berperan penting dalam pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat.

Lebih lanjut Dedi menyebutkan salah satu petani milenial yang tetap eksis di tengah wabah Covid-19 adalah Saefuddin Muslimin, pemilik Permata Farm yang bergerak di bidang peternakan ayam kampung dan petelur di Kota Makassar dan Kabupaten Soppeng.

Sebagai generasi milenial, pria berusia 30 tahun ini memanfaatkan media online untuk memasarkan hasil ternak dan olahannya langsung kepada konsumen. “Kita berupaya memotong jalur distribusi agar konsumen bisa mendapatkan pasokan daging ayam yang sehat dan terjangkau, apalagi di masa pandemi ini masyarakat diminta tetap di rumah saja, kita melayani pengantaran sampai ke rumah-rumah,” ujar Efu, sapaan akrabnya.

Muslimin menjelaskan alasanya memilih komoditas peternakan khususnya ayam kampung dikarenakan pemeliharaannya relatif mudah dengan tingkat kematian yang rendah. “Apalagi sudah ada anakan ayam kampung unggulan yang dikembangkan oleh Kemantan berikut dengan informasi terkait teknis pemeliharaanya”, jelasnya.

Kini ia telah memiliki peternakan di tiga lokasi dengan penjualan rata-rata 3.000 ekor ayam kampung per bulan. Harga tiap ekor untuk wilayah Kota Makassar adalah Rp.55.000,- sehingga rata-rata total Omzet dalam 1 bulan Rp.165Juta.

Ia pun menjelaskan pos pengeluaran terbesar ada di Pakan dan DOC Ayam KUB Yang mencapai Rp. 22.000,- per ekor. Untuk 3.000 ekor dibutuhkan modal Rp.66 Juta. Jadi keuntungan bersih perbulan sebesar Rp.99 juta. Pengeluaran masih dapat ditekan dengan menetaskan sendiri DOC dan mencari pakan alternatif yang lebih murah,” jelas Muslimin.

Dengan keberhasilan yang ia raih, ia mengajak kepada seluruh generasi milienial untuk tidak ragu terjun kedunia pertanian. “Ini adalah sektor yang menjanjikan dan bergengsi. Ditengah pendemi ini seluruh petani dan peternak untuk tetap berusaha menyediakan pasokan pangan bagi masyarakat di tengah masa krisis. Untuk pemasaran sudah saatnya kita memanfaatkan teknologi internet untuk memasarkan secara online”, tutur Muslimin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here